INDONESIA TODAY ONLINE -Dalam sebuah podcast viral, seorang agamawan yang terhormat nekat melakukan harakiri intelektual: ia meracik falasi paling mematikan dalam jagat logika—Falasi Totalisasi—seolah menenggak racun yang membakar kredibilitasnya sendiri.
Falasi Totalisasi adalah pembunuhan sistematis terhadap kompleksitas rea kolitas. Ini terjadi ketika seseorang meratakan puncak gunung menjadi kerikil, menyulap realitas multidimensional menjadi penyebab tunggal nan absolut. Contohnya: “Tidak ada yang dari kelompk X yang punya otoritas pengetahuan!”
Jean-Paul Sartre, filsuf eksistensialis, menyebut ini upaya “menotalisasi”—membekukan sejarah dan manusia dalam kotak statis, seolah hidup hanya hitam-putih. Padahal, realitas adalah lukisan abstrak dengan ribuan gradasi! Realitas adalah spektrum cahaya, kata Suhrawardi.
Falasi ini biasanya diprodukasi dalam proposisi negatif universal seperti “Tidak ada orang dari kelompok fulan yang punya otoritas pengetahuan” seraya memasukkan fakta individu yang kontras dengannya ke dalam keranjang negarivitas atau “Kemiskinan hanya disebabkan oleh kemalasan individu,” seraya mengabaikan faktor struktural seperti sistem korupsi, oligarki, ekonomi, pendidikan, atau diskriminasi.
Totalisasi adalah fokus pada penyederhanaan absolut suatu fenomena (mengabaikan kompleksitas). Ia mirip dengan oversimplification (penyederhanaan berlebihan) atau reductionism (mengurangi fenomena kompleks ke satu penyebab).
Proposisi negatif universal (tipe E dalam logika silogistik yang dikenal dengan Empat Figura atau Al-Asykal Al-Arba’ah) memiliki struktur “Tidak ada S yang P” (No S are P).
Contoh: “Tidak ada dari kelompok tertentu (S) yang berotoritas pengetahuan (P).”
Pernyataan ini mengklaim keseragaman mutlak pada suatu kelompok, padahal realitas sosial selalu mengandung variasi. Klaim seperti ini jarang valid karena sulit membuktikan ketiadaan total (absence of all exceptions).
Sumber Kesalahannya adalah
1. Overgeneralisasi. Yaitu mengabaikan keberadaan individu atau subkelompok yang bertentangan dengan stereotipe. Misalnya, jika ada satu saja seorang dari kelpmpok tertentu yang ahli dalam pengetahuan, proposisi tersebut langsung runtuh.
2. Reduksionisme: Mereduksi identitas kompleks suatu kelompok menjadi satu sifat negatif (misal: “tidak baik” atau “tidak berpengetahuan”), mengabaikan dimensi lain seperti pengalaman, konteks, atau kapasitas individu.
3. Bias Kognitif berupa
A. Konfirmasi Bias : Hanya memperhatikan contoh yang mendukung stereotipe.
B. Out-group Homogeneity Bias : Memandang kelompok luar sebagai homogen, sementara kelompok sendiri dianggap beragam.
Dampak Sosial dari pernyataan bugil logika di atas adalah
A. Dehumanisasi. Stereotipe totalisasi merusak martabat individu dengan menyamaratakan mereka sebagai “kategori buruk”.
B. Pembenaran Diskriminasi. Klaim yang menghapus sama sekali adanya seorang yang memiliki otoritas pengetahuan dapat digunakan untuk membenarkan marginalisasi atau kekerasan terhadap kelompok tertentu. Inilah yang disebut pembunuhan karakter massal atau genosida stigma.
C. Penghambatan Dialog. Generalisasi absolut menutup ruang untuk pertukaran ide atau pengakuan atas kontribusi positif dari kelompok yang distigmatisasi.
D. Pengagungan arogansi sekaligus deklarasi stupiditas. Pernyataan serampangan yang menafikan fakta nyata hanya muncul dari kehendak dominasi dan ketakberdayaan menerima keragaman.
Ringkasnya, falasi totalisasi dalam proposisi negatif universal tidak hanya cacat secara logika, tetapi juga berbahaya secara sosial serta dapat meruntuhkan kepercayaan publik kepada aksioma sebagai landasan norma bernegara dan berbangsa secara logis. Ia mengaburkan kebenaran, merusak hubungan antarkelompok, dan melanggengkan prasangka. Karenanya, mengkritik falasi ini bukan hanya tugas logika (jihad logika), tetapi juga upaya etis untuk menghargai keragaman manusia.
Seberapapun jumlah induvidu buruk dalam kelompok apapun (keyakinan, etnis, profesi dan lainnya) tidak akan pernah absah menjadi dasar logis dan etis, apalagi agama, bagi totalisasi predikat buruk.
“Hanya karena seseorang menemukan keburukan pada orang lain tak berarti dia pasti baik.”
George Santayana
04042025